Ramalan Iseng-Isengan

Posted: May 23, 2011 in pengetahuan

Bulan Januari
Wataknya:
-Tenang dan berwibawa
- Suka berterus terang dan tidak suka basa-basi
- Pandai menyimpan rahasia dan bisa dipercaya
- Disukai banyak orang karena selalu kelihatan ceria
- Mandiri dan tidak suka meminta bantuan pada orang lain
- Pandai mengatur keuangan
- Agak pendiam dan lebih senang memperhatikan dirinya sendiri
- Teliti dan tidak sembarangan melakukan pekerjaan.

Bulan Februari
Wataknya:
- Mempunyai hati yang tulus
- Perasaannya peka dan mudah tersinggung
- Senang dipuji dan selalu menuruti apa yang diinginkannya
- Suka humor dan hormat pada siapa saja
- Keras hati dan mempunyai pendirian tetap
- Agak pemalas dan suka mengingkari janji

Bulan Maret
Wataknya:
- Baik hati dan suka menolong sesama.
- Suka kehidupan yang serba wah.
- Seleranya tinggi.
- Tidak tegaan dan selalu memberi pada orang yang kesusahan.
- Agak pemalu, namun jujur dan tidak pernah bohong.
- Mudah terpengaruh dan tidak kuat menghadapi godaan.
- Suka melalaikan kesehatan dirinya sendiri.

Bulan April
Wataknya:
- Tidak mau mengalah dan selalu ingin menang sendiri
- Pembosan
- Senang dipuji
- Agak boros walau pandai mencari uang
- Mempunyai otak yang cerdas namun tidak suka diperintah
- Tak pernah memilih dalam berteman

Bulan Mei
Wataknya:
- Pandai menguasai perasaan
- Pandai mengambil hati orang lain
- Punya selera tinggi dan senang kehidupan yang serbah wah.
- Senang menunda pekerjaan.
- Agak boros walau rejekinya bagus.
- Tidak suka basa-basi dan tidak senang dipuji.

Bulan Juni
Wataknya:
- Romantis dan suka menolong
- Tidak mempunyai pendirian tetap
- Suka berpikir yang muluk-muluk
- Mudah tersinggung bila perasaanya tersentuh
- Agak pemalas dan baru mau bekerja bila di iming-iming hasil besar
- Selalu ceria walau hatinya sedang kesal.

Bulan Juli
Wataknya:
- Senang berkhayal
- Kalau sudah marah, kata-katanya tajam
- Tidak mempunyai pendirian tetap
- Senang dipuji
- Suka menolong pada sesama
- Pandai bicara dan berotak cerdas
- Agak pemalas

Bulan Agustus
Wataknya:
- Mempunyai perasaan yang peka/halus
- Cepat tersinggung
- Suka menghayal dan berpikiran yang muluk-muluk
- Tidak mudah terpengaruh
- Agak pemalas
- Kalau bekerja lebih menuruti kehendak hatinya sendiri.

Bulan September
Wataknya:
- Mudah tersinggung dan cepat naik darah
- Baik hati dan jujur
- Bisa menyimpan rahasia
- Suka berfoya-foya
- Pandai menyimpan uang namun tidak pelit
- Suka menolong sesama dan pandai mendidik anak

Bulan Oktober
Wataknya:
- Berjiwa besar dan mau mengalah
- Pandai bicara
- Cerdas dan baik hati
- Memiliki tekad yang kuat
- Tidak sabaran dan agak boros
- Pikirannya tidak tetap dan selalu berubah-ubah

Bulan November
Wataknya:
- Tabah dan kuat dalam menghadapi segala cobaan
- Pandai mengerjakan setiap pekerjaan
- Pandai mengambil hati orang lain
- Agak pemalas dan suka menunda pekerjaan
- Banyak berpikir
- Agak pendendam dan tidak mudah memberi maaf pada orang yang bersalah
- Keras hati

Bulan Desember
Wataknya:
- Mudah menaruh rasa percaya pada orang lain
- Kalau mengerjakan sesuatu suka tergesa-gesa
- Tidak sabaran
- Tidak mau mengalah dan selalu ingin menang sendiri
- Mudah terpengaruh
- Jujur dan baik hati
- Pemborosan dan suka memaksakan kehendak

Dasar Negara dan Konstitusi Negara

Posted: April 13, 2011 in pengetahuan
Tags:

A. PENGERTIAN DASAR NEGARA DAN KONSTITUSI NEGARA

1. Dasar Negara

Dasar Negara adalah fandemen yang kokoh dan kuat serta bersumbar dari pandangan hidup atau falsafah(cerminan dari peradaban, kebudayaan, keluhuran budi dan kepribadian yang tumbuh dalam sejarah perkembangan Indonesia) yang diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.

 

2. Konstitusi

Konstitusi (Latin constitutio) dalam negara adalah sebuah norma sistem politik dan hukum bentukan pada pemerintahan negara, biasanya dikodifikasikan sebagai dokumen tertulis. Dalam kasus bentukan negara, konstitusi memuat aturan dan prinsip-prinsip entitas politik dan hukum, istilah ini merujuk secara khusus untuk menetapkan konstitusi nasional sebagai prinsip-prinsip dasar politik, prinsip-prinsip dasar hukum termasuk dalam bentukan struktur, prosedur, wewenang dan kewajiban pemerintahan negara pada umumnya, Konstitusi umumnya merujuk pada penjaminan hak kepada warga masyarakatnya. Istilah konstitusi dapat diterapkan kepada seluruh hukum yang mendefinisikan fungsi pemerintahan negara. Dalam bentukan organisasi konstitusi menjelaskan bentuk, struktur, aktivitas, karakter, dan aturan dasar organisasi tersebut.

 

3. Tujuan Konstitusi

Tujuan dibuatnya konstitusi adalah untuk mengatur jalannya kekuasaan dengan jalan membatasinya melalui aturan untuk menghindari terjadinya kesewenangan yang dilakukan penguasa terhadap rakyatnya serta memberikan arahan kepada penguasa untuk mewujudkan tujuan Negara. Jadi, pada hakikatnya konstitusi Indonesia bertujuan sebagai alat untuk mencapai tujuan negara dengan berdasarkan kepada nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara.

 

4. Nilai konstitusi

Dimaksud nilai adalah : sesuatu yang dianggap baik untk dilaksanakan.
Dilihat dari sejauh mana tanggapan masyarakat terhadap konstitusi yang dibuat oleh Negara maka ada 3 nilai yang bisa dikemukakan di sini yaitu:

a.       Normatif
Bila pelaksanaan konstitusi ini memperoleh dukungan rakyat dan
Dilaksanakan secara sempurna

b.      Nominal
Bila pelaksanaan konstitusi ini dalam batas tertentu berlaku walau Tidak
sempurna

c.       Semantik
Bila konstitusi ini berlaku hanya formalitas Dipergunakan untuk
kepentingan Penguasa

 

5. Hubungan Dasar negara Dengan Konstitusi

Hubungan Dasar negara Dengan Konstitusi Berhubungan sangat erat, konstitusi lahir merupakan usaha untuk melaksanakan dasar negara. Dasar negara memuat norma-norma ideal, yang penjabarannya dirumuskan dalam pasal-pasal oleh UUD (Konstitusi). Merupakan satu kesatuan utuh, dimana dalam Pembukaan UUD 45 tercantum dasar negara Pancasila, melaksanakan konstitusi pada dasarnya juga melaksanakan dasar negara.

B. SUBSTANSI KONSTITUSI NEGARA

1. Unsur-unsur sebuah Konstitusi

a.       Konstitusi dipandang sebagai perwujudan masyarakat.

b.      Konstitusi sebagai piagam yang menjamin Hak Asasi Manusia (HAM) dan warga negara sekaligus menentukan batas-batas hak dan kewajiban warga negara dan alat-alat pemerintahannya.

c.       Konstitusi sebagai forma regimensis atau kerangka bangunan pemerintahan.

 

2. Macam-macam Konstitusi

Kostitusi telah tersusun menurut golongan secara tertulis dan tidak tertulis, keras ( rigid ) dan lunak ( Flexible ).

a. Undang – undang tertulis.

Undang – undang tertulis biasanya termaktub dalam satu dokument, namun adakalanya kelompok yang menggabungkan sistem struktur garis besar untuk dokument pemerintahan, banyak perlengkapan kekuatan dan fungsi dari legislative, executive dan organ judicial ditetapkan, juga fungsi dan hubungan pemerintahan terhadap rakyat asas dasar kekuasaan tersebut digunakan. Ada juga beberapa dokument disusun oleh majelis terpilih dengan sengaja bertujuan untuk kemaslahatan, atau mungkin juga bekerja tetap sebagai badan legislative dan bisa juga menyebarluaskan keputusan raja atau diktator.

b. Undang- undang tak tertulis.

Undang- undang tak tertulis sebagian besar lahir dari adat atau kebiasaan, dan terhimpun sebagian besar dalam pemakaian; prinsip umum, keputusan pengadilan dan lain lain. Ini merupakan produksi sejarah evolusi dan pertumbuhan dari pada yang disengaja, dan undang-undang yang formal.

 

3. Ciri Konstitusi

Fungsi pokok konstitusi adalah membatasi kekuasaan pemerintah sedemikian rupa sehingga penyelenggaraan kekuasaan tidak bersifat sewenang-wenang. Pemerintah sebagai suatu kumpulan kegiatan yang diselenggarakan oleh dan atas nama rakyat, terkait oleh beberapa pembatasan dalam konstitusi negara sehigga menjamin bahwa kekuasaan yang dipergunakan untuk memerintah itu tidak disalahgunakan. Dengan demikian diharapkan hak-hak warganegara akan terlindungi.

 

4. Konstitusi di Indonesia

Konstitusi di Indonesia adalah UUD 1945. UUD 1945 secara umum mengatur kekuasaan dan fungsi lembaga-lembaga negara, hubungan di antara mereka, dasar negara, hak asasi manusia, dam kewajiban warga negara.

 

C. KEDUDUKAN PEMBUKAAN UUD 1945

Kedudukan pembukaan Negara Kesatuan Republik Indonesia sangat berguna bagi kehidupan bangsa Indonesia, karena kedudukan pembukaan mempunyai fungsi yang penting. Dalam pembukaan tersebut termuat tujuan negara maupun  dasar negara Indonesia. serta cita-cita bangsa yang fundamental.

 

 

 

D. PERIODISASI KONSTITUSI DI INDONESIA

Dalam sejarah perkembangan ketatanegaraan Indonesia ada empat macam Undang-Undang yang pernah berlaku, yaitu :

1. Periode 18 Agustus 1945 – 27 Desember 1949

(Penetapan Undang-Undang Dasar 1945)

Saat Republik Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, Republik yang baru ini belum mempunyai undang-undang dasar. Sehari kemudian pada tanggal 18 Agustus 1945 Rancangan Undang-Undang disahkan oleh PPKI sebagai Undang-Undang Dasar Republik Indonesia setelah mengalami beberapa proses.

 

2. Periode 27 Desember 1949 – 17 Agustus 1950

(Penetapan konstitusi Republik Indonesia Serikat)

Perjalanan negara baru Republik Indonesia ternyata tidak luput dari rongrongan pihak Belanda yang menginginkan untuk kembali berkuasa di Indonesia. Akibatnya Belanda mencoba untuk mendirikan negara-negara seperti negara Sumatera Timur, negara Indonesia Timur, negara Jawa Timur, dan sebagainya. Sejalan dengan usaha Belanda tersebut maka terjadilah agresi Belanda 1 pada tahun 1947 dan agresi 2 pada tahun 1948. Dan ini mengakibatkan diadakannya KMB yang melahirkan negara Republik Indonesia Serikat. Sehingga UUD yang seharusnya berlaku untuk seluruh negara Indonesia itu, hanya berlaku untuk negara Republik Indonesia Serikat saja.

 

3. Periode 17 Agustus 1950 – 5 Juli 1959

(Penetapan Undang-Undang Dasar Sementara 1950)

Periode federal dari Undang-undang Dasar Republik Indonesia Serikat 1949 merupakan perubahan sementara, karena sesungguhnya bangsa Indonesia sejak 17 Agustus 1945 menghendaki sifat kesatuan, maka negara Republik Indonesia Serikat tidak bertahan lama karena terjadinya penggabungan dengan Republik Indonesia. Hal ini mengakibatkan wibawa dari pemerintah Republik Indonesia Serikat menjadi berkurang, akhirnya dicapailah kata sepakat untuk mendirikan kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bagi negara kesatuan yang akan didirikan jelas perlu adanya suatu undang-undang dasar yang baru dan untuk itu dibentuklah suatu panitia bersama yang menyusun suatu rancangan undang-undang dasar yang kemudian disahkan pada tanggal 12 Agustus 1950 oleh badan pekerja komite nasional pusat dan oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan senat Republik Indonesia Serikat pada tanggal 14 Agustus 1950 dan berlakulah undang-undang dasar baru itu pada tanggal 17 Agustus 1950.

 

4. Periode 5 Juli 1959 – sekarang

(Penetapan berlakunya kembali Undang-Undang Dasar 1945)

Dengan dekrit Presiden 5 Juli 1959 berlakulah kembali Undang-Undang Dasar 1945. Dan perubahan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Orde Lama pada masa 1959-1965 menjadi Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Orde Baru. Perubahan itu dilakukan karena Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Orde Lama dianggap kurang mencerminkan pelaksanaan Undang-Undang Dasar 1945 secara murni dan konsekuen.

 

 

 

E. PERUBAHAN KONSTITUSI

Perubahan konstitusi / UUD yaitu: Secara revolusi, pemerintahan baru terbentuk sebagai hasil revolusi ini yang kadang – kadang membuat sesuatu UUD yang kemudian mendapat persetujuan rakyat. Secara evolusi, UUD/konstitusi berubah secara berangsur-angsur yang dapat menimbulkan suatu UUD, secara otomatis UUD yang sama tidak berlaku lagi. Perubahan UUD 1945 yang dilakukan dalam empat tahap pada tahun 1999, 2000, 2001, dan 2002 adalah salah satu kesepakatan dasar bangsa Indonesia. Perubahan tersebut merupakan cermin adanya perubahan kondisi sosial, perubahan cara berpikir, dan perubahan aspirasi dari seluruh bangsa Indonesia terkait dengan tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

 

F. SIKAP POSITIF TERHADAP KONSTITUSI NEGARA

Konstitusi dibuat untuk memudahkan suatu bangsa dalam melangsungkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap penguasa bersama warga negara menghormati konstitusi yang telah dibuat bersama.

Masalah Sampah

Posted: April 13, 2011 in pengetahuan
Tags:

Lingkungan hidup adalah benda-benda yang mengelilingi hidup manusia. Karena benda yang mengelilingi hidup manusia terdiri dari benda padat, benda cair, dan benda gas.

Unsur lingkungan hidup dapat berupa benda hidup di sekitar manusia. Misal, bapak, ibu, nenek, saudara, kucing, ayam, sapi, bayam, jambu, pisang dan sebagainya. Di samping itu juga di sekitar  benda-benda mati. Misal, pagar besi, radio, TV, piring, dinding, dan bahkan sampah.

Jelasnya makna lingkungan manusia ternyata meliputi benda hidup, benda mati, agama, adat, pendidikan dan lain-lain. Manusia bersama unsur lingkungan itu membentuk ekosistem, yaitu pengaruh timbal-balik antara manusia dan lingkungannya.

Dahulu kebutuhan orang masih dalam tingkat yang primer sekali. Karena pengaruh zaman kebutuhannya berlipat ganda. Dari bermacam-macam kebutuhan tersebut tidal semuanya terpakai. Sisa-sisa kebtuhan, menjadi barang buang. Orang butuh roti, sudah wajar kalau bungkusnya dibuang. Dan itulah sampah!

Karena dahulu belum banyak orang maka belum banyak pula membutuhkan tanah untuk tempat hidup. Tanah masih banyak luang kekosongan. Padahal jumlah sampah tidak tidak menjadi masalah. Sampah dalam jumlah yang belum berlebih-lebihan, banyak keuntungannya bagi manusia. Dipendam dalam tanah akan menjadi pupuk yang sangat baik untuk tanaman. Bila dibuang ke sungai, akan diolah secara kimiawi, menimbulkan bahan makan bagi zat-zat yang lain. Dahulu belum ada sampah yang tidakdapat diolah secara kimiawi oleh tenaga alam. Barang-barang seperti beling, plastik, mika, dan sebagainya itu tidak lapuk dipendam di tanah. Tidak hancur direndam dalam air. Akibatnya air dan tanah menjadi cemar.

Kalau sampah benda buatan tersebut menjadi masalah karena kualitasnya, tidak demikianlah mengenai sampah alam. Sampah alam yaitu sampah yang terdiri dari benda alam seperti daun, jerami, sisa makanan, dan lain-lain.

Sampah ini menjadi masalah bukan karena kualitasnya (kekuatan), tetapi justru disebabkan kuantitas (jumlah) sampah yang melampui batas. Di kota jumlah sampah setiap hari menjadi berton-ton banyaknya.

Jadi jelasnya bahwa sampah menjadi masalah manusia karena pengaruh yang ditimbulkan oleh sampah-sampah itu. Karena ada sampah yang tidak dapat dihancurkan kembalioleh tenaga alam. Dan karena jumlahnya yang melampaui batas.

Sampah yang melampaui batas merupakan pencemaran lingkungan yang amat mengancam kelestarian hidup manusia. Sampah bertumpuk menebal, sudah merupakan pencemaran internasional.

Akibat majunya teknologi maka banyak sampah yang tak dapat dihancurkan oleh alam. Plastik, beling dan sebagainya, tidak dapat dihancurkan oleh sistem pembusukan alam. Akibatnya sampah seperti itu akan merusak lingkungan di udara, air, dan daratan.

Sampah sering dibuang di sungai-sungai, khususnya di kota-kota. Tindakan ini amat mengganggu ekosistem manusia. Akibat pencemaran yang timbul dari tindakan membuang sampah di sungai adalah sampah itu menyumbat aliran air, akibatnya air meluap dan terjadilah banjir yang melanda manusia sendiri. Air yang terhambat tersebut akan tersumbat/tidak mengalir, maka menimbulkan pembusukan dan berbau busuk. Tentu saja, hal ini mengganggu kesehatan dan ketentraman manusia. Sampah di sungai dapat menimbulkan pedangkalan. Bahkan, karena sungai itu bermuara di danau  atau lautan, maka juga akan mendangkalkan danau atau lautan.

Cara penanggulan sampah dapat melalui bermacam-macam cara, diantaranya:

1.      Cara Settling Procces, yakni memisahkan sampah keras dari yang berair, maka sampah yang berupa cairan dialirkan ke sungai atau danau.

2.      Cara  Resikling (daur ulang), yaitu pemanfaatan kembali barang-barang yang terbuang.

3.      Cara Isinerasi, yaitu membakar sampah di dapur bakar. Bahan-bahan sisa isinerasi juga bisa dimanfaatkan.

4.      Cara Destilasi, yaitu memasukan sampah ke dalam ruang tertutup, kemudian dipanasi tanpa diberi udara dan akan mengakibatkan macam-macam gas, gas tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia yaitu pembangkit tenaga listrik.

5.      Kompos, yaitu menumpukan sampah organik ke dalam wadah dan ditutup selama  3 bulan.

6.      Penimbunan, yaitu menimbun sampah dengan tanah.

7.      Gunung Sampah

8.      Kantong Plastik, memasukan sampah-sampah ke plastik supaya tidak berserakan.

9.      Pengepresan

10.  Tangan banyak lebih kokoh, yaitu setiap manusia harus mempunyai kesadaran, jadi setia kita melihat sampah kita mesti memungutnya dan membuangnya ke tempat sampah.

Budaya Kuda Renggong

Posted: April 13, 2011 in pengetahuan
Tags:

BAB I

Pendahuluan

A.    LATAR BELAKANG

Masyarakat Indonesia merupakan suatu masyarakat majemuk yang memiliki keanekaragaman di dalam berbagai aspek kehidupan. Bukti nyata adanya kemajemukan di dalam masyarakat kita terlihat dalam beragamnya kebudayaan di Indonesia. Tidak dapat kita pungkiri bahwa kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa, karsa manusia yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia.

Melihat realita bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural maka akan terlihat pula adanya berbagai suku bangsa di Indonesia. Tiap suku bangsa inilah yang kemudian mempunyai ciri khas kebudayaan yang berbeda-beda. Daerah Sumedang merupakan salah satu daerah yang berada di suku Sunda. Sebagai salah satu daerah di Indonesia, Sumedang memiliki kharakteristik yang membedakannya dengan daerah lain. Keunikan kharakteristik daerah Sumedang ini tercermin dari kebudayaan dan kesenian yang mereka miliki baik dari segi agama, mata pencaharian, kesenian dan lain sebagainya.

Seiring dengan kemajuan jaman, tradisi dan kebudayaan daerah yang pada awalnya dipegang teguh, di pelihara dan dijaga keberadaannya oleh setiap daerah, kini sudah hampir punah. Pada umumnya masyarakat merasa gengsi dan malu apabila masih mempertahankan dan menggunakan budaya lokal atau budaya daerah. Kebanyakan masyarakat memilih untuk menampilkan dan menggunakan kesenian dan budaya modern daripada budaya yang berasal dari daerahnya sendiri yang sesungguhnya justru budaya daerah atau budaya lokalah yang sangat sesuai dengan kepribadian bangsanya.

Mereka lebih memilih dan berpindah ke budaya asing yang belum tetntu sesuai dengan keperibadian bangsa bahkan masyarakat lebih merasa bangga terhadap budaya asing daripada budaya yang berasal dari daerahnya sendiri.

Tanpa mereka sadari bahwa budaya daerah merupakan faktor utama terbentuknya kebudayaan nasional dan kebudayaan daerah yang mereka miliki merupakan sebuah kekayaan bangsa yang sangat bernilai tinggi dan perlu dijaga kelestarian dan keberadaanya oleh setiap individu di masyarakat. Pada umumnya mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya kebudayaan merupakan jati diri bangsa yang mencerminkan segala aspek kehidupan yang berada didalalmnya.

 

BAB II

Pembahasan

Sumedang adalah salah satu daerah yang berada di Jawa Barat yang penuh dengan kebudayaan dan tradisi yang masih melekat. Selain terkenal dengan kota “Tahu” di setiap daerah di Sumedang juga memiliki budayanya masing-masing, budaya itulah yang menjadi karakteristik daerah itu. Sehingga Sumedang merupakan “Puseur Budaya Sunda. Salah satu budaya atau tradisi yang berkembang pesat adalah Kuda Renggong.

 

A.    PENGERTIAN KUDA RENGGONG

Kuda Renggong merupakan salah satu seni pertunjukan rakyat yang berasal dari Sumedang. Kata “renggong” di dalam kesenian ini merupakan metatesis dari kata ronggeng yaitu kamonesan (bahasa Sunda untuk “ketrampilan”) cara berjalan kuda yang telah dilatih untuk menari mengikuti irama musik terutama kendang, yang biasanya dipakai sebagai media tunggangan dalam arak-arakan anak sunat.

B.     SEJARAH KUDA RENGGONG

Berdasarkan cuplikan sejarah lahirnya kesenian Kuda Renggong di Kab. Sumedang, kesenian tradisional itu mulai muncul sekira tahun 1910. Awalnya, Kanjeng Pangeran Aria Suriaatmaja (1882-1919) pada masa pemerintahan berusaha untuk memajukan bidang peternakan. Pangeran Suriaatmaja sengaja mendatangkan bibit kuda yang dianggap unggul dari pulau Sumba dan Sumbawa. Kuda-kuda tersebut selain digunakan sebagai alat transportasi bangsawan, pada masa  tersebut kuda juga sering difungsikan sebagai alat hiburan pacuan kuda.

Sementara kesenian kuda renggong menurut cuplikan sejarahnya, berawal dari prakarsa seorang abdi dalem bernama Sipan yang biasa mengurus kuda titipan dari para pamong praja saat itu. Sipan yang kelahiran tahun 1870 adalah anak dari Bidin, yang tinggal di Dusun Cikurubuk, Desa Cikurubuk Kec. Buahdua Sumedang.

Sejak kecil, Sipan yang kemudian banyak mendapat titipan kuda dari pamong praja, senang mengamati gerak-gerik dan tingkah laku kuda. Dari hasil pengamatannya, Sipan menyimpulkan, kuda bisa dilatih mengikuti gerakan yang diinginkan manusia. Ketika Sipan berusia sekira 40 tahun, ia mulai mencoba melatih kuda gerakan tari (ngarenggong).

Hal itu diawalinya, ketika suatu hari di tahun 1910 ia memandikan sejumlah kuda titipan pamong praja di suatu tempat pemandian. Sipan saat itu, melihat, seekor kuda di antaranya, bergoyang dengan gerakan melintang. Sipan mengiringinya dengan musik dogdog dan angklung. Eh gerakan kuda yang ngigel tadi semakin menjadi-jadi.

Dari pengamatan dan pelatihan-pelatihan kuda menari tersebut, Sipan menyimpulkan kuda bisa dilatih melakukan sejumlah gerakan tari. Masing-masing gerakan diberi nama, semacam Adean, yaitu gerakan lari kuda melintang atau gerakan kuda lari ke pingggir. Lalu torolong, yaitu gerakan lari kuda dengan langkah kaki pendek-pendek, namun gerakannya cepat. Gerakan Derap/jorog adalah gerakan langkah kaki kuda jalan biasa, artinya lari dengan gerakan cepat. Sedangkan congklang adalah gerakan lari cepat dengan kaki sama-sama ke arah depan, dan gerakan anjing minggat, yaitu gerakan kaki kuda setengah berlari.

Dengan dukungan Kanjeng Pangeran Aria Suriaatmaja, Sipan resmi melatih kuda dengan gerakan-gerakan tadi. Saat itulah menjadi awal lahirnya kesenian kuda renggong. Setelah Sipan meninggal dunia di usia 69 tahun (1939), keahliannya melatih kuda menari diturunkan kepada putranya bernama Sukria.

Selanjutnya, keahlian melatih kuda tersebut, secara turun temurun terus berlanjut dan berkembang hingga ke generasi-generasi pelatih kuda saat ini. Dengan berbagai tambahan kreasi hingga akhirnya lahir dan berkembangnya kuda silat.

C.    BENTUK KESENIAN

Sebagai seni pertunjukan rakyat yang berbentuk seni helaran (pawai, karnaval), Kuda Renggong telah berkembang dilihat dari pilihan bentuk kudanya yang tegap dan kuat, asesoris kuda dan perlengkapan musik pengiring, para penari, dll., dan semakin hari semakin semarak dengan pelbagai kreasi para senimannya. Hal ini tercatat dalam setiap festival Kuda Renggong yang diadakan setiap tahunnya. Akhirnya Kuda Renggong menjadi seni pertunjukan khas Kabupaten Sumedang. Kuda Renggong kini telah menjadi komoditi pariwisata yang dikenal secara nasional dan internasional.

Dalam pertunjukannya, Kuda Renggong memiliki dua kategori bentuk pertunjukan, antara lain meliputi pertunjukan Kuda Renggong di desa dan pada festival.

1.      Pertunjukan di pemukiman

Pertunjukan Kuda Renggong dilaksanakan setelah anak sunat selesai diupacarai dan diberi doa, lalu dengan berpakaian wayang tokoh Gatotkaca, dinaikan ke atas kuda Renggong lalu diarak meninggalkan rumahnya berkeliling, mengelilingi desa.

Musik pengiring dengan penuh semangat mengiringi sambung menyambung dengan tembang-tembang yang dipilih, antara lain Kaleked, Mojang Geulis, Rayak-rayak, Ole-ole Bandung, Kembang Beureum, Kembang Gadung, Jisamsu, dll. Sepanjang jalan Kuda Renggong bergerak menari dikelilingi oleh sejumlah orang yang terdiri dari anak-anak, juga remaja desa, bahkan orang-orang tua mengikuti irama musik yang semakin lama semakin meriah. Panas dan terik matahari seakan-akan tak menyurutkan mereka untuk terus bergerak menari dan bersorak sorai memeriahkan anak sunat. Kadangkala diselingi dengan ekspose Kuda Renggong menari, semakin terampil Kuda Renggong tersebut penonton semakin bersorak dan bertepuk tangan. Seringkali juga para penonton yang akan kaul dipersilahkan ikut menari.

Setelah berkeliling desa, rombongan Kuda Renggong kembali ke rumah anak sunat, biasanya dengan lagu Pileuleuyan (perpisahan). Lagu tersebut dapat dilantunkan dalam bentuk instrumentalia atau dinyanyikan. Ketika anak sunat selesai diturunkan dari Kuda Renggong, biasanya dilanjutkan dengan acara saweran (menaburkan uang logam dan beras putih) yang menjadi acara yang ditunggu-tunggu, terutama oleh anak-anak desa.

2.      Pertunjukan festival

Pertunjukan Kuda Renggong di Festival Kuda Renggong berbeda dengan pertunjukan keliling yang biasa dilakukan di desa-desa. Pertunjukan Kuda Renggong di festival Kuda Renggong, setiap tahunnya menunjukan peningkatan, baik jumlah peserta dari berbagai desa, juga peningkatan media pertunjukannya, asesorisnya, musiknya, dll. Sebagai catatan pengamatan, pertunjukan Kuda Renggong dalam sebuah festival biasanya para peserta lengkap dengan rombongannya masing-masing yang mewakili desa atau kecamatan se-Kabupaten Sumedang dikumpulkan di area awal keberangkatan, biasanya di jalan raya depan kantor Bupati, kemudian dilepas satu persatu mengelilingi rute jalan yang telah ditentukan panitia (Diparda Sumedang). Sementara pengamat yang bertindak sebagai Juri disiapkan menilai pada titik-titik jalan tertentu yang akan dilalui rombongan Kuda Renggong.

Dari beberapa pertunjukan yang ditampilkan nampak upaya kreasi masing-masing rombongan, yang paling menonjol adalah adanya penambahan jumlah Kuda Renggong (rata-rata dua bahkan empat), pakaian anak sunat tidak lagi hanya tokoh Wayang Gatotkaca, tetapi dilengkapi dengan anak putri yang berpakaian seperti putri Cinderella dalam dongeng-dongeng Barat. Penambahan asesoris Kuda, dengan berbagai warna dan payet-payet yang meriah keemasan, payung-payung kebesaran, tarian para pengiring yang ditata, musik pengiring yang berbeda-beda, tidak lagi Kendang Penca, tetapi Bajidoran, Tanjidor, Dangdutan, dll. Demikian juga dengan lagu-lagunya, selain yang biasa mereka bawakan di desanya masing-masing, sering ditambahkan dengan lagu-lagu dangdutan yang sedang popular, seperti Goyang Dombret, Pemuda Idaman, Mimpi Buruk, dll. Setelah berkeliling kembali ke titik keberangkatan.

D.    PERKEMBANGAN

Dari dua bentuk pertunjukan Kuda Renggong, jelas muncul musik pengiring yang berbeda. Musik pengiring Kuda Renggong di desa-desa, biasanya cukup sederhana, karena umumnya keterbatasan kemampuan untuk memiliki alat-alat musik (waditra) yang baik. Umumnya terdiri dari kendang, bedug, goong, terompet, genjring kemprang, ketuk, dan kecrek. Ditambah dengan pembawa alat-alat suara (speakrer toa, ampli sederhana, mike sederhana). Sementara musik pengiring Kuda Renggong di dalam festival, biasanya berlomba lebih “canggih” dengan penambahan peralatan musik terompet Brass, keyboard organ, simbal, drum, tamtam, dll. Juga di dalam alat-alat suaranya.

E.     MAKNA

Makna yang secara simbolis berdasarkan beberapa keterangan yang berhasil dihimpun, diantaranya:

v  Makna spiritual: semangat yang dimunculkan adalah merupakan rangkaian upacara inisiasi (pendewasaan) dari seorang anak laki-laki yang disunat. Kekuatan Kuda Renggong yang tampil akan membekas di sanubari anak sunat, juga pemakaian kostum tokoh wayang Gatotkaca yang dikenal sebagai figur pahlawan;

v  Makna interaksi antar mahluk Tuhan: kesadaan para pelatih Kuda Renggong dalam memperlakukan kudanya, tidak semata-mata seperti layaknya pada binatang peliharaan, tetapi memiliki kecenderungan memanjakan bahkan memposisikan kuda sebagai mahluk Tuhan yang dimanjakan, baik dari pemilihan, makanannya, perawatannya, pakaiannya, dan lain-lain;

v  Makna teatrikal: pada saat-saat tertentu di kala Kuda Renggong bergerak ke atas seperti berdiri lalu di bawahnya juru latih bermain silat, kemudian menari dan bersilat bersama. Nampak teatrikal karena posisi kuda yang lebih tampak berwibawa dan mempesona. Atraksi ini merupakan sajian yang langka, karena tidak semua Kuda Renggong, mampu melakukannya;

v  Makna universal: sejak zaman manusia mengenal binatang kuda, telah menjadi bagian dalam hidup manusia di pelbagai bangsa di pelbagai tempat di dunia. Bahkan kuda banyak dijadikan simbol-simbol, kekuatan dan kejantanan, kepahlawanan, kewibawaan dan lain-lain.


BAB III

Penutup

A.    KESIMPULAN

Yang menciptakan seni kuda renggong yaitu Sipan, dari desa Cikurubuk, Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang. Pada awalnya secara tidak disengaja, yaitu sekitar tahun 1910-an. Daya tarik yang terdapat dalam atraksi seni kuda renggong, antara lain keterampilan gerak Sang Kuda melakukan gerakan gerakan kaki, kepala dan badan mengikuti irama musik yang mengiringinya. Hewan yang pandai menari, bergoyang, dan bersilat telah menjadi bagian dari upacara penyambutan tamu kehormatan, mulai dari bupati, gubernur sampai mentri dan pejabat lainnya.

Hal itulah yang membuat Kuda Renggong berkembang pesat bukan hanya di Kabupaten Sumedang tetapi berkembang ke luar Kota Sumedang, sekarang Kuda Renggong sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia.

B.     SARAN

Kuda Renggong merupakan ciri khas budaya Sumedang, agar Kuda Renggong tidak diakui oleh daerah lain dan punah seiring majunya jaman, maka kita sebagai generasi muda harus berusaha menjaga dan melestarikan budaya nenek moyang kita yang memiliki sejarah dan makna yang tersirat di dalamnya.

Budaya Musik Betawi

Posted: April 12, 2011 in pengetahuan
Tags:

Penduduk Betawi sejak awal sudah sangat heterogen. Kesenian Betawi lahir dari perpaduan berbagai unsur etnis dan suku bangsa yang hidup di Betawi. Seni Musik Betawi tidak terhindar dari proses perpaduan itu. Dalam musik betawi terdapat pengaruh Eropa, Tionghoa, Arab, Melayu, Sunda dan lain-lain.

A.    Gambang Kromong

Nama Gambang Kromong diambila dari nama alat musik yaitu gambang dan kromong. Ia juga merupakan prpaduan yang serasi antara unsur pribumi dan Cina. Unsur Cina tampak pada instrumen tehyan, kongahyan, dan sukong. Sementara unsur pribumi berupa kehadiran instrumen seperti gendang, kempul, gong, gong enam, kecrek dan ningnong. Memang pada mulanya gambang kromong adalah ekspresi orang cina peranakan saja. Sampai awal abad ke-19 lagu-lagu gambang kromong masih dinyanyikan dengan bahasa cina. Baru pada dasawarsa pertama abad ke-20 retepertoar lagu gambang kromong diciptakan dalam bahasa betawi. Belakangan dalam setiap pegelarannya gambang kromong selalu membawakan lagu-lagu dari khazanah cina dan betawi. Seperti lagu-lagu Instrumental (phobin) berjudul Ma Su Thay, Kong Jie Lok, Phe Pan Thaw, Ban Kie Hwa, Phe Boo Than, Bon Liauw, dan “Lagu Sayur” berjudul, antara lain, Cente manis, Kramat karem, Sirih Kuning, Glatik Ngunguk, Surilang, Lenggang Kangkung, Kudebel, Stambul Jampang, dan Jali-Jali Kembang Siantan.

Gambang Kromong sangat terbuka menerima kemungkinanpengembangan. Itulah sebabnya dikenal gambang kromong kombinasai. Gambang Kromong Kombimasi disebut juga Gambang Kromong Modern. dikatakan kombinasi karena alat musik asli ditambah atau dikombinasikan dengan alat musik barat seperti: Gitar, gitar melodi, bass, organ, saksofon, drum, dan sebagainya. Gambang Kromong Kombinasi dapat memenuhi semua keinginan penonton. Dapat dibawakan jenis lagu dangdut, kroncong, pop bahkan gambus.

Seniman musik pop pun bisa mempopulerkan lagu-lagu gambang kromong, seperti Benyamin S, Ida royani, Lilis Suryani, Herlina Effendi dan lain lain. Sementara Tokoh gambang kromong yang pernah dan masih dikenal sampai saat ini adalahLiem Lian Pho (pemimpin rombongan “selendang Delima”), Suryahanda (pemimpin rombongan “Naga Mustika”), Samen, Acep, Marta (pemimpin rombongan “Putra Cijantung” yang sebelumnya dipimpin oleh Nya’at), Amsar (pemimpin rombongan “Setia Hati” dari Bendungan Jago), Samad Modo (pemimpin rombongan “Garuda Putih”), L. Yu Hap, Tan Kui Hap, dan Jali Jalut.

 

B.     Gambang Rancang

Gambang Rancag bisa disebut sebagai pertunjukan musik sekaligus teater, bahkan sastra. Ia terdiri dari dua unsur yaitu Gambang dan Rancag. Gambang berarti musik pengiringnya dan Rancag adalah cerita yang dibawakannya dalam bentuk pantun berkait.  Umumnya membawakan lakon-lakon jagoan seperti Si Pitung, Si Jampang dan si Angkri. Pantun berkait ini dinyanyikan oleh dua orang bergantian . Sama dengan berbalas Pantun.

Pagelaran Gambang Rancag selalu terbagi atas tiga bagian. Bagian pembukaan yang di isi dengan lagu-lagu phobin yang berfungsi mengumpulkan penonton. Bagian kedua diisi dengan menampilkan lagu-lagu hiburan atau “Lagu Sayur”. Bagian ini berfungsi sebagai selingan sebelum ngerancag dimulai. Kedua jenis lagu ini sama sengan yang dinyanyikan dalam gambang kromong. Bagian ketiga rancag. Lagu-Lagu yang dibawakan dalam merancag adalah Dendang Surabaya, Gelatik Nguknguk, Persi, Phobin Jago, Phobin Tintin, dan Phobin Tukang Sado.

Setiap pemain rancag bukan hanya harus mampu bernyanyi tetapi juga harus punya kemampuan untuk menyusun pantun dan hafal jalan cerita yang akan dibawakan. Dia harus hafal lakon-lakon yang akan dimainkan.

Contoh : Dua bait Rancag Si Pitung :

Ambil simping asalnya kerang

Pasang pelita terang digantung

Pasang kuping nyatalah biar terang

digambang rancag buka rancag Jago Bang Pitung.

Pasang pelita terang digantung

Pisang kepok yang mude-mude

Buka Rancag Jago Bang Pitung

Sagalenye Pitung ngerampog di wetan bagian Marunde

C.    Gamelan Ajeng

Merupakan musik folklorik Betawi yang mendapat pengarugh dari musik sunda. Beberapa darah di Pasundan terdapat pula gamelan ajeng. Seperti di kecamatan Kawali, Ciamis Jawa Barat. Meskipun begitu perkembangan kemudian membedakan gamelan ajeng di Betawi dengan gamelan serupa di Pasundan. Gamelan Ajeng Gandaria pimpinan Radi Suardi misalnya memainkan lagu-lagu seperti Carabali, Timblang, Gagamblangan, Matraman, Banjaran, Jiro, dan lagu-lagu lain yang tidak ada di gamelan ajeng pasundan. Sementara lagu-lagu yang terdapat di gamelan ajeng pasundan adalah Papalayan, Engko, Titipati, Bayeman, Papalayan Bayut, dan Bondol Hejo.

Instrumen musik gamelan ajeng terdiri dari kromong sepuluh pencin, terompet, gendang (dua gndang besar, dua kulanter), dua saron, bende, cemes (semacam cecempres), kecrek. Kadang-kadang ada juga yang menggunakan dua gong : Gong Laki-laki dan Gong Perempuan.

Gamelan ajeng biasa digunakan untuk memeriahkan hajatan, seperti khitanan atau perkawinan. Pada mulanya tidak biasa digunakan untuk pengiring tarian, tapi pada perkembangannya gamelan ajng kemudian  digunakan pula untuk mengiringi tarian yang disebut “Blenggo Ajeng”. Belakangan ini, sesuai dengan perkembangan zaman dan untuk memuaskan penontonnya, gamelan ajeng juga memainkan lagu-lagu sunda pop. Bahkan ada pula yang digunakan untuk mengiringi tari jaipong.

Selain di Gandaria, Gamelan Ajeng juga berkembang di p[inggiran Jakarta seperti di Kelapa Dua Wetan dipimpin oleh Oking alias Peking, di Cireundeu dipimpin oleh Neran, di Pakopen Tambun dipimpin Sarah, di Kranggan Pondok Gede dipimpin oleh Saad.

 

D.    Gamelan Topeng

Gamelan Topeng adalah seperangkat gamelan untuk mengiringi topeng Betawi, sebagaimana gambang kromong untuk mengiringi pertunjukan lenong. Gamelan topeng merupakan penyederhanaan dari gamelan lengkap. Terdiri dari rebab, sepasang gendang (gendang besar dan kulanter), ancang kenong berpencong tiga, kecrek, kempul yang digantung dan sebuah gong tahang atau gong angkong. Kenong berpencong tiga di sini ditabuh oleh dua panjak. Yang pertama menabuh pencon kenong (“ngenong”), yang satu lagi menabuh kenceng atau pinggiran kenong (“ngenceng”). Lantaran penyederhanaan ini gamelan topeng bisa dibawa berkeliling untuk “ngamen” dari kampung ke kampung. Terutama pada saat perayaan tahun baru, baik Masehi maupun Imlek, sebagaimana dilakukan rombongan almarhum Haji Bokir pada era 1950-an.

Pemukulan kempul memegang peranan penting dalam pertunjukan topeng sebab ia menandakan pertunjukan akan segera dimulai. Setelah itu dilanjutkan dengan gesekan rebab tunggal (“arang-arangan”). Panjangnya tergantung kesempatan, tetapi ia juga berfungsi untuk mengumpulkan panjak yang belum siap di tempat. Setelah arang-arangan dilanjutkan dengan “talu” atau “tetalu” yang ditabuh lebih keras dari sebelumnya dan berfungsi untuk mengumpulkan penonton. Setelah itu barulah pertunjukan pendahuluan atau pralakon bermula, yakni pertunjukan tari-tarian. Pralakon berlangsung melalui “Lipetgandes” yang dilakukan oleh seorang bodor dan ronggeng topeng (penari topeng). Setelah selesai, bermulalah pertunjukan inti. Dalam pergelaran lakon, panjang atau pendek, gamelan berfungsi sebagai tanda pergantian babak, untuk memberikan aksentuasi gerakan dan jalan cerita.

Ada dua repertoar yang biasa dibawakan gamelan topeng. Pertama lagu-lagu “dalem” seperti Kang Aji, Gendol Ijo, Glenderani, dan sebagainya. Kedua, lagu-lagu “luar”, yaitu lagu-lagu yang biasa diperdengarkan berdasarkan permintaan penonton. Antara lain, Geseh dan Bongbang.

 

E.     Keroncong Tugu

Keroncong Tugu dahulu sering disebut Cafrinho Tugu. Orang-orang keturunan Portugis (mestizo) telah memainkan musik ini sejak 1661. Pengaruh Portugis dapat diketahui dari jenis irama lagunya. Misalnya moresko, frounga, kafrinyo, dan nina bobo. Keroncong Tugu tidak jauh beda dengan keroncong pada umumnya. Tapi juga bukan sama persis. Keroncong Tugu berirama lebih cepat. Irama yang lebih cepat ini disebabkan oleh suara ukulele yang memainkannya digaruk seluruh senanrnya. Sementara keroncong Solo atau Yogya berirama lebih lambat.

Keroncong Tugu pada mulanya dimainkan oleh 3 atau 4 orang. Alat musiknya hanya 3 buah gitar, yaitu: gitar Frounga yang berukuran besar dengan 4 dawai, gitar Monica berukuran sedang dengan 3-4 dawai, dan gitar Jitera yang berukuran keci dengan 5 dawai. Selanjutnya alat musik Keroncong Tugu ditambah dengan suling, biola, rebana, mandolin, cello, kempul, dan triangle. Dulu keroncong ini sering membawakan lagu berirama melankolis, diperluas dengan irama pantun, irama stambul, irama Melayu, langgam keroncong, dan langgam Jawa. Syair lagu-lagunya kebanyakan masih menggunakan bahasa Portugis, yang cara pengucapannya sudah terpengaruh dialek Betawi Kampung Tugu.

Keroncong Tugu masih sering pentas pada berbagai tempat dan kesempatan. Di atas pentas para pemainnya selalu berpenampilan khas: yang laki-laki mengenakan baju koko putih, celana batik, dan tutup kepala semacam baret. Mereka juga selalu memakai semacam syal yang melingkari leher. Sementara yang perempuan memakai kebaya. Tokoh keroncong Tugu saat ini adalah Samuel Quicko dan Fernando yang memimpin “Moresko Toegoe” di Kampung Tugu, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Mereka berdua dibantu oleh saudara-saudara mereka, Ester dan Bernado. Sebelumnya ada orang tua mereka: Oma Kristin (Christine) dan opa Eddy Wasch yang pernah memperoleh penghargaan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 1976.

 

F.     Tanjidor

Musik tanjidor diduga berasal dari bangsa Portugis yang datang ke Betawi pada abad ke-14 sampai ke-16. Ahli musik dari Belanda bernama Ernst Heinz berpendapat tanjidor asalnya dari para budak yang ditugaskan main musik untuk tuannya. Sejarawan Belanda Dr. F. De Haan juga berpendapat orkes tanjidor berasal dari orkes budak pada masa kolonial. Alat musik yang mereka mainkan antara lain: klarinet, piston, trombon, tenor, bas trompet, bas drum, tambur, simbal, dan lain-lain. Mereka menghibur tuan mereka saat pesta dan jamuan makan. Ketika perbudakan dihapuskan pada 1860, pemain musik musik, mereka membentuk perkumpulan musik. Lahirlah perkumpulan musik yang dinamakan tanjidor.

Lagu-lagu yang dibawakan tanjidor antara lain Batalion, Kramton, Bananas, Delsi, Was Tak-tak, Welmes, dan Cakranegara. Judul lagu itu berbau Belanda meski dengan ucapan Betawi. Lagu-lagu tanjidor juga diperkaya dengan lagu-lagu gambang kromong. Karena itu instrumennya bisa ditambah dengan tehyan, rebana, beduk, gendang, kecrek, kempul, dan gong.

Pada era 1950-an orkes tanjidor masih ngamen. Khususnya pada tahun baru Masehi dan Imlek. Dengan telanjang kaki atau bersandal jepit mereka ngamen dari rumah ke rumah di kawasan elite, seperti Menteng, Salemba, dan Kebayoran Baru, daerah-daerah yang banyak dihuni orang Belanda. Pada tahun baru Cina biasanya tanjidor ngamen lebih lama. Karena tahun baru Cina dirayakan sampai perayaan Cap Go Meh, yaitu pesta hari ke-15 Imlek.

Tanjidor berkembang di daerah pinggiran Jakarta, Depok, Cibinong, Citeureup, Cileungsi, Jonggol, Parung, Bogor, Bekasi dan Tangerang. Di daerah-daerah itu dahulu banyak terdapat perkebunan dan villa milik orang Belanda, di mana budak-budak mereka memainkan musik tanjidor untuk sang tuan. Adapun grup tanjidor yang kini menonjol adalah Putra Mayangsari pimpinan Marta Nyaat di Cijantung Jakarta Timur dan Pusaka pimpinan Said di Jagakarsa Jakarta Selatan.

 

G.    Orkes Samrah

Orkes Samrah sering disebut juga Sambrah. Samrah telah berkembang di Jakarta sejak abad ke-17. Asalnya dari Melayu. Hal itu dimungkinkan karena salah satu suku yang menjadi cikal bakal orang Betawi adalah Melayu. Samrah berasal dari kata bahasa Arab “samarokh” yang berarti berkumpul atau pesta dan santai. Kata “samarokh” oleh orang Betawi diucapkan menjadi “samrah” atau “sambrah”. Dalam kesenian Betawi, samrah menjadi orkes samrah dan tonil samrah serta tari samrah.

Orkes Sambrah adalah ansambel musik Betawi. Instrumen musiknya antara lain harmonium, biola, gitas, string bas, tamburin, marakas, banyo, dan bas betot. Dalam menyajikan sebuah lagu, unsur alat musik harmonium sangat dominan dan kini sudah langka. Maka orkes samrah disebut pula sebagai orkes harmonium. Orkes ini dimanfaatkan sebagai sarana hiburan dalam berbagai acara. Lagu-lagu pokoknya berbahasa Melayu seperti Burung Putih, Pulau Angsa Dua, Cik Minah Sayang, Sirih Kuning, Masmura, Pakpung Pak Mustape, dan sebagainya. Di samping itu dimainkan juga lagu-lagu yang khas Betawi, seperti Jali-jali, Kicir-kicir, dan Lenggang-lenggang Kangkung.

Kostum yang dipakai pemain samrah ada dua macam: peci, jas, dan kain pelekat atau baju sadariah dan celana batik. Sekarang ditambah lagi satu model yang sebenarnya model lama, “jung serong” (ujungnya serong), yang terdiri dari tutup kepala yang disebut liskol, jas kerah tutup dengan panetolan satu warna dan sepotong kain batik yang dililitkan di bawah jas, dilipat menyerong, ujungnya menyembul ke bawah.

Daerah penyebaran samrah terbatas di kawasan Betawi Tengah, seperti Tanah Abang, Cikini, Paseban, Tanah Tinggi, Kemayoran, Sawah Besar dan Petojo. Masyarakat pendukungnya kebanyakan kelas menengah. Kini popularitasnya makin surut, meski belakangan Lembaga Kebudayaan Betawi berupaya untuk membangkitkannya. Terutama membantu kelompok samrah yang paling representatif yang pernah dipimpin oleh almarhum Harun Rasyid.

 

H.    Rebana

Rebana terbilang kesenian yang cukup populer di Jakarta. Di daerah lain, terutama di Jawa, alat musik bermembran ini disebut “terbang”. Sebutan rebana diduga berasal dari kata Arab “robbana” (Tuhan kami). Sebutan ini muncul karena alat musik ini biasa digunakan untuk mengiringi lagu-lagu bernafaskan Islam. Lama-kelamaan alat musiknya disebut “rebana”, atau “robana”, sebagaimana terjadi di daerah Ciganjur, Pondok Pinang dan sekitarnya. Hampir semua jenis rebana Betawi terdapat di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Selebihnya di Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Tangerang. Berdasarkan jenis alat, sumber syairnya, wilayah penyebarannya dan latar belakang sosial pendukungnya, rebana Betawi terdiri atas jenis-jenis berikut ini:

1.      Rebana Biang

Di daerah lain rebana jenis ini disebut juga dengan Rebana Gede, Rebana Salun, Gembyung, dan Terbang Selamet. Disebut rebana biang karena salah satu rebananya berbentuk besar. Meski bentuknya sama, rebana biang terdiri dari empat jenis. Yang paling kecil berdiameter 20 cm biasa disebut ketog; yang bergaris tengah 30 cm disebut gendung; yang sedang bergaris tengah 60 cm dinamai kotek; yang paling besar bergaris tengah 60—80 cm dinamai biang. Karena bentuknya yang besar, rebana biang dimainkan sambil duduk dengan cara menyanggahnya dengan telapak kaki dan lutut.

Bila cara membawakan rebana jenis lain tampak khidmat dan syair-syairnya yang berasal dari bahasa Arab diucapkan dengn tajwid dan makhraj yang bagus, maka kata-kata Arab dalam orkes rebana biang diucapkan dengan lidah atau dialek setempat. Lagu rebana biang ada dua macam. Pertama, yang berirama cepat, disebut lagu Arab atau lagu nyalun, seperti Rabbuna Salun, Allahah, Allah Aisa, Allahu Sailillah, dan Hadro Zikir. Kedua, yang berirama lambat, disebut lagu rebana atau lagu Melayu, antara lain Alfasah, Alaik Soleh, Dul Sayiduna, Dul Laila, Yulaela, Sollu Ala Madinil Iman, Anak Ayam Turun Selosin, Sangrai Kacang.

Kebanyakan kelompok rebana biang yang lebih dekat dengan kota Jakarta, seperti rebana biang Ciganjur, lebih banyak memiliki perbendaharaan laku-laku “dikir” berbahasa Arab atau lagu-lagu berlirik bahasa Betawi, atau bahasa Sunda, yang bagi senimannya sendiri kurang dipahami artinya. Sementara kelompok-kelompok rebana biang di daerah pinggiran, seperti Pondok Rajeg, Cakung, Ciseeng dan Parung dalam pergelaran ada juga yang menambahkan alat-alat musik lain, seperti terompet, rebab, tehyan, bahkan biola. Penambahan ini untuk menggantikan lagu-lagu “dikir”. Di samping untuk mengiringi nyanyian atau “dikir”, rebana biang juga biasa digunakan untuk mengiringi tarian Blenggo atau “Blenggo Rebana”. Sementara teater yang biasa diiringi dengan rebana biang adalah Blantek.

Dahulu grup rebana biang banyak tersebar seperti di Kalibata Tebet, Condet, Kampung Rambutan, Kalisari, Ciganjur, Bintaro, Cakung, Lubang Buaya, Sugih Tanu, Ciseeng, Pondok Cina, Pondok Terong, Sawangan, Pondok Rajeg, Gardu Sawah, Bojong Gede, dan sebagainya. Yang kini masih bertahan grup rebana biang Pusaka pimpinan Abdulrahman di Ciganjur. Namun personel grup ini sebagian besar sudah tua. Sebelumnya ada kelomok rebana biang Kong Sa’anan yang sangat terkenal di era 1950-an karena dipercaya memiliki “ronggeng gaib” yang mampu menyedot dan menghipnotis penonton sehingga sukarela bertahan sampai pagi.

2.      Rebana Ketimpring

Sebutan Rebana Ketimpring mungkin karena adanya tiga pasang “kerincingan”, yakni semacam kercek yang dipasang pada badannya, yang terbuat dari kayu yang menurut istilah setempat disebut “kelongkongan”. Tapi tidak semua rebana berkerincingan disebut rebana ketimpring, ada pula yang bernama rebana hadroh dan rebana burdah.

Rebana ketimpring jenis rebana yang paling kecil. Garis tengahnya hanya berukuran 20 sampai 25 cm. Dalam satu grup ada tiga buah rebana. Ketiga rebana itu mempunyai sebutan rebana tiga, rebana empat, dan rebana lima. Rebana lima berfungsi sebagai komando. Sebagai komando, rebana lima diapit oleh rebana tiga dan rebana empat. Rebana Ketimpring mempunyai dua fungsi: sebagai Rebana Ngarak dan Rebana Maulid.

3.      Rebana Ngarak

Sesuai dengan namanya, Rebana Ngarak berfungsi mengarak dalam suatu arak-arakan. Rebana ngarak biasanya mengarak mempelai pengantin laki-laki menuju ke rumah mempelai pengantin perempuan. Syair lagu rebana ngarak biasanya shalawat. Syair shalawat itu diambil dari kitab maulid Syarafal Anam, Addibai, atau Diiwan Hadroh. Karena berfungsi mengarak itulah, rebana ngarak tidak statis di satu tempat saja.

Gaya pukulan rebana ngarak biasanya disesuaikan dengan kesempatan. Misalnya selama perjalanan pengantin laki-laki menuju rumah pengantin perempuan biasanya menggunakan pukulan “salamba”. Setelah berada di rumah pengantin perempuan biasanya digunakan gaya “sadati”. Mungkin berasal dari kata “syahadatain”, dua kalimat syahadat yang akan diucapkan oleh pengantin laki-laki di hadapan penghulu.

Rebana ngarak saat ini berkembang dengan baik. Banyak remaja dan pemuda mempelajarinya. Dalam grup rebana ngarak dipelajari pula berbalas pantun dan silat, seperti dalam upacara ngarak pengantin. Grup rebana ngarak terdapat di berbagai kampung. Misalnya di kampung Paseban, Kwitang, Karang Anyar, Kali Pasir, Kemayoran, Kayu Manis, Lobang Buaya, Condet, Ciganjur, Grogol, Kebayoran Lama, Pejaten, Pasar Minggu, Kalibata, dan lain-lain.

4.      Rebana Maulid

Sesuai namanya rebana ini berfungsi sebagai pengiring pembacaan riwayat nabi Muhammad. Kitab maulid yang biasa dibaca Syarafal Anam karya Syaikh Albarzanji dan kitab Addibai karya Abdurrahman Addibai. Tidak seluruh bacaan diiringi rebana. Hanya bagian tertentu seperti Assalamualaika, Bisyahri, Tanaqqaltu, Wulidalhabibu, Shalla ‘Alaika, Badat Lana, dan Asyrakal. Bagian Asyrakal lebih semangat karena semua hadirin berdiri. Pembacaan maulid nabi dalam masyarakat Betawi sudah menjadi tradisi. Pembacaan maulid tidak terbatas pada bulan mulud (Rabiul Awwal) saja. Setiap acara selalu ada pembacaan maulid. Apakah khiatanan, nujuhbulanin, akekah, pernikahan, dan sebagainya.

Pukulan rebana maulid berbeda dengan pukulan rebana ngarak. Nama-nama pukulan rebana maulid disebut pukulan jati, pincang sat, pincang olir, dan pincang harkat. Dahulu ada seniman rebana maulid yang gaya pukulannya khas. Seniman ini bernama Sa’dan, tinggal di Kebon Manggis, Matraman. Sa’dan memperoleh inspirasi pukulan rebana dari gemuruh air hujan. Gayanya disebut gaya Sa’dan.

5.      Rebana Hadroh

Pada umumnya ukuran Rebana Hadroh agak lebih besar dari rebana ketimpring. Garis tengahnya rata-rata 30 cm. Rebana hadroh terdiri dari tiga jenis. Pertama disebut Bawa, irama pukulannya cepat, dan berfungsi sebagai komando. Kedua disebut Ganjil atau Seling dan berfungsi saling mengisi dengan bawa. Ketiga disebut Gedug yang berfungsi sebagi bas. Karena itu ada pula yang menyebutnya “rebana gedug”.

Cara memainkan rebana hadroh bukan dipukul biasa tapi dipukul seperti memainkan gendang sehingga terdengar agak melodius. Jenis pukulan rebana hadroh ada empat, yaitu tepak, kentang, gedug, dan pentil. Keempat jenis pukulan itu dilengkapi dengan naman-nama irama pukulan. Nama irama pukulan, antara lain irama pukulan jalan, sander, sabu, pegatan, sirih panjang, sirih pendek, dan bima. Sementara lagu-lagu rebana hadroh diambil dari syair Diiwan Hadroh dan syair Addibaai. Yang khas dari pertunjukan rebana hadroh adalah Adu Zikir. Dalam adu zikir tampil dua grup yang silih berganti membawakan syair Diiwan Hadroh. Grup yang kalah umumnya grup yang kurang hafal membawakan syair tersebut.

Rebana hadroh pernah ada di kampung Grogol Utara, Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Kalibata, Duren Tiga, Utan Kayu, Kramat Sentiong, dan Paseban. Salah seorang tokoh rebana hadroh yang terkenal adalah Mudehir, seorang tuna netra. Mudehir memiliki keterampilan teknis yang sempurna. Variasi pukulannya sangat kaya. Bahkan dengan pukulan kakinya pun suara rebana masih sempurna. Suaranya indah. Daya hafalnya atas syair Diiwan Hadroh sangat baik. Konon kemampuannya memainkan rebana hadroh terinspirasi dari suara pekerja pabrik batik yang mengecap kain dengan bertalu-talu. Mudehir wafat pada 1960. Sepeninggal Mudehir rebana hadroh semakin surut. Kini rebana hadroh tinggal kenangan.

6.      Rebana Dor

Perbedaan rebana ketimpring dengan Rebana Dor adalah pada rebana dor terdapat lubang-lubang kecil pada “kelongkongnya” untuk tempat jari. Mungkin untuk memudahkan atau agar lebih enak memegangnya. Cara memegang rebana dor terkadang bertumpu pada lutut kiri kanan. Tangan kiri dan kanan bebas memukul rebana. Rebana dor adalah rebana yang fleksibel. Rebana dor dapat dimainkan bersama rebana ketimpring, rebana hadroh, bahkan dengan orkes gambang.

Ciri khas rebana dor terletak pada irama pukulan yang tetap sejak awal lagu sampai akhir. Ciri lain adalah lagu Yaliil, yaitu bagian solo vokal sebagai pembukaan lagu. Lagu Yaliil mengikuti nada atau notasi lagu membaca Qur’an, antara lain Shika, Hijaz, Nahawan, Rosta, dan lain-lain. Syair lagu rebana dor diambil dari berbagai sumber, antara lain Syarafal Anam, Mawalidil Muhammadiyah, Diiwan Hadroh, Addiibai. Sering pula dibawakan lagu-lagu dari penyanyi Mesir terkenal seperti Ummi Kaltzoum. Karena itu pula rebana dor biasa disebut “rebana lagu”.

Rebana dor lebih banyak persamaannya dengan rebana kasidah. Perkembangan rebana kasidah sangat pesat sehingga menggeser rebana dor. Lagi pula rebana kasidah lebih diminati remaja putri. Rebana dor hanya dimainkan oleh orang-orang tua. Rebana kasidah lebih enak ditonton karena pemainnya remaja putri. Rebana dor didukung pemain leki-laki yang sudah berusia lanjut. H. Naiman dari kampung Grogol Utara, Arifin dari kampung Kramat Sentiong, dan H. Abdurrahman dari kampung Klender adalah tokoh-tokoh rebana dor. Sayangnya ketiga orang ini tidak mempunyai penerus. Akibatnya rebana dor tidak berkembang.

7.      Rebana Kasidah

Rebana Kasidah termasuk yang paling populer. Setiap kampung terdapat grup rebana kasidah. Rebana kasidah dianggap sebagai perkembanagan lebih lanjut dari rebana dor. Sejak awal rebana kasidah sudah disenangi, khususnya oleh remaja putri. Ini yang membuat pesatnya perkembangan rebana kasidah. Tidak ada unsur ritual dalam penampilan rebana kasidah. Maka rebana kasidah bebas bermain di mana saja dan dalam acapa apa saja. Lirik-lirik yang dinyanyikan tidak terbatas pada lirik-lirik berbahasa Arab, melainkan yang berbahasa Indonesia.

Ada yang beranggapan kepopuleran rebana kasidah karena ia lazim dimainkan oleh perempuan. Di masa lalu hampir semua madrasah memiliki kelompok rebana kasidah. Bahkan di era 1970 sampai 1980-an festival kasidah marak dilaksanakan. Grup pemenang festival ditampilkan pada acara-acara penting. Ada pula grup yang merekam lagu-lagu mereka ke dalam pita kaset dan laris dijual. Penyanyi rebana kasidah yang terkenal adalah Hj. Rofiqoh Darto Wahab, Hj. Mimi Jamilah, Hj. Nur Asiah Jamil, Romlah Hasan, dan lain-lain. Menurut catatan Lembaga Seni Qasidah DKI Jakarta pada 10 tahun lalu jumlah ogranisasi rebana kasidah sekitar 600 kelompok.

8.      Rebana Maukhid

Ukuran jenis rebana ini lebih besar dari rebana hadroh, sekitar 40 cm. Munculnya jenis kesenian rebana maukhid tidak lepas dari nama Habib Hussein Alhadad. Habib inilah yang mengembangkan rebana maukhid. Habib Hussen mempelajari kesenian rebana dari Hadramaut. Rebana maukhid yang asli hanya dua buah, tapi ia mengembangkannya menjadi empat sampai 16 buah. Profesi sehari-hari Habib Hussein adalah muballig. Untuk lebih memeriahkan tablig setiap malam Jumat, Habib Hussein menyanyikan shalawat diiringi rebana. Syair shalawat yang dinyanyikan diambil dari karya Abdullah Alhadad.

Rebana maukhid dapat dimainkan tanpa terikat jumlah pemain, tergantung jumlah pemain dan tempat pertunjukannya, sehingga bisa dimainkan oleh dua, tiga, empat, bahkan 16 orang. Keberadaan rebana maukhid bukan semata-mata untuk pertunjukan, tapi sebagai pengis acara tablig. Tidak ada rancangan khusus berkenaan dengan pementasan. Apalagi rencana pengembangan dan perluasan wilayah. Rebana maukhid hanya ada di Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kalaupun di daerah lain ada Rebana Maukhid, mungkin dilakukan oleh murid Habib Hussein Alhadad.

9.      Rebana Burdah

Garis tengah Rebana Burdah lebih besar dari rebana maukhid, sekitar 50 cm. Penamaan rebana burdah mungkin karena nama grupnya, yaitu “Burdah Fiqah Ba’mar” yang dipimpin oleh Sayid Abdullah Ba’mar. Mungkin juga dinamakan demikian karena biasa membawakan “qaida” (salah satu bentuk puisi Arab) Alburda yang terdapat di kitab Majemuk atau Mawalid. Rebana jenis ini hanya ada di Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan dan dikembangkan oleh Abdullah Ba’mar. Para pemainnya semula berasal dari keluarga Ba’mar, Amzar, dan Kathum yang kesemuanya merupakan imigran Arab asal Mesir.

Kehadiran Firqah Burdah Ba’mar awalnya untuk mengisi waktu luang menjelang atau sesudah pengajian. Dengan disajikannya rebana burdah, pengajian terasa lebih meriah dan tidak membosankan. Karena main di forum pengajian, lagu-lagu yang dinyanyikan diambil dari syair Al-Busyiri yang berisi puji-pujiab kepada Nabi Muhammad. Pada umumnya lagu-lagu burdah berirama 4/4 dimainkan sambil duduk bersila, sedangkan lagu-lagu yang berirama lebih cepat biasa disebut “Fansub” dimainkan sambil berdiri.

 

I.       Orkes Gambus

Orkes Gambus dahulu dikenal dengan sebutan irama Padang Pasir. Pada tahun 1940-an orkes gambus menjadi tontonan yang disenangi. Bagi orang Betawi, tanpa nanggap gambus pada pesta perkawinan atau khitanan dan sebagainya terasa kurang sempurna. Menurut Munif Bahasuan, orkes gambus sudah ada di Betawi sejak awal abad ke-19. Saat itu banyak imigram dari Hadramaut (Yaman Selatan) dan Gujarat datang ke Betawi. Jika walisongo menggunakan gamelan sebagai sarana dakwah, imigram Hadramaut menggunakan gambus.

Peralatan musik gambus bervariasi, tapi yang baku umumnya terdiri dari gambus, biola, dumbuk, suling, organ atau akordion, dan marawis. Awalnya orkes gambus membawakan lagu dengan syair bahasa Arab, seperti Lisaani Bihamdillah, Yamalaakal Hub, Solla Rabbuna, Asyraqal Badrui dan Syarah Dala. Kemudian gambus berkembang menjadin sarana hiburan. Ia juga biasa digunakan untuk mengiringi tarian Japin yang biasa ditarikan oleh laki-laki berpasangan.

Orkes gambus tidak bisa dipisahkan dari Syaikh Albar dari Surabaya dan SM Alaydrus. Kedua orang ini merupakan musisi gambus terkenal pada era 1940-an. SM Alaydrus berhasil mengembangkan orkes harmonium yang pada erac1950 menjadi orkes Melayu. Syech Albar mempertahankan tradisi gambus. Sampai 1940-an lagu gambus masih berorientasi ke Yaman Selatan. Setelah bioskop Alhamra di Sawah Besar banyak memutar film Mesir, lagu gambus berorientasi ke Mesir. Sehingga nama Umi Kaltzoum, Abdul Wahab, dan Farid Alatras terkenal dan lagu-lagunya ditiru.

Sampai era 1950-an orkes gambus makin terkenal. Orkes gambus mengisi siaran di RRI tiap malam Jumat. Dua grup yang selalu tampil di RRI adalah Orkes Gambus Al-Wardah pimpinan Muchtar Lutfie dan Orkes Gambus Al-Wathan pimpinan Hasan Alaydrus. Pada era 1960-an orkes gambus mulai menurun pamornya. Politik Demokrasi Terpimpin melarang kesenian yang berbau asing. Di era 1990-an orkes gambus mulai bangkit kembali.di Indonesia. Malah sempat diadakan lokakarya musik gambus pada 1997 meski hasilnya belum menggembirakan.

Tokoh musik gambus di Jakarta yang cukup terkenal adalah Husnu Maad K.H. Zainal Abidin Alhadad dan Zein Alhadad. Salah satu grup yang terkenal saat ini adalah Arrominiah pimpinan H. Hendy Supandi.

 

J.      Marawis

Marawis hampir sama dengan rebana yang menggunakan perkusi sebagai alat musik utamanya. Perbedaan dengan rebana terdapat pada jenis dan ukuran alat perkusinya. Jika pada rebana hanya satu sisi kendang yang tertutup maka pada marawis kedua sisinya tertutup kendang.

Nama Marawis diambil dari nama alat musik yang dipergunakan dalam kesenian ini. Alat Musik tersebut ada tiga jenis : pertama, perkusi rebana ukuran kecil bergaris tengah 10 Cm, tinggi 17 Cm dan kedua kendangnya tertutup. Inilah yang disebut marawis (biasanya paling sedikit digunakan 4 buah). Kedua, perkusi besar (tinggi 50 Cm, garis tengah 10 Cm) yang disebut hadir dengan kedua kendanya tertutup. Ketiga adalah papan tepok.

Marawis biasanya membawakan lagu atau syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW dan berbalas pantun. . Seringkali juga dipergunakan dalam penyambutan tetamu dan mengiringi pengantin dalam atau acara besanan.

 

K.    Sampyong

Sebagai orkes tanpa laras, sampyong merupakan musik rakyat Betawi pinggiran yang paling sederhana dibandingkan dengan musik betawi lainnya. Nama musik ini berasal dari satu alat musik yang bernama Sampyong (semacam kordofan bambu berdawai dua utas). Di Pasundan alat musik ini disebut celembung, di Jawa tengah dinamakan gumbreng dan di Jawa Timur disebut gunlang. Alat musik lainnya adalah sejenis gambang empat bilah terbuat dari bambu kayu dan ancaknya (talam dibuat dari anyaman bambu, lidi atau lidi nyiur) terbuat dari gedebong pisang. Ada pula yang menambahnya dengan dua buah tanduk kerbau yang dibunyikan dengan cara digesek-gesekan.

Orkes ini biasa digunakan untuk mengiringi pertandingan ujangan, yaitu dua orang bertanding saling memukul dengan rotan sebesar ibu jari kaki yang didahului dengan tarian uncul.

Welcome To 2011 and Good Bye 2010

Posted: January 1, 2011 in berita
Tags:

horeee mari kita rayakan di hari dan tanggal pertama ini di tahun 2011, semoga di taun ini kita bisa lebih baik dari taun-taun sebelumnya dan semoga keberuntungan menimpa kita. AMIN.

selamat tinggal 2010 terima kasih atas semua waktumu dan hari-harimu yang membuat gw merasa senang dan tatkala sedih. selama di taun 2010 gw melewati ± 365 hari (ya iya lah) dengan penuh tantangan dan pengetahuan yang gw terima

dan gw juga di taun 2011 mempunyai harapan selain yang pernah gw ceriain di posting sebelumnya, yaitu ingin bisa menyelesaikan semester 1 dengan prestasi yang membanggakan, sekedar info gw akan menghadapi ulum akhir-akhir Januari ini, minta doanya aja ea..

selain itu gw ingin merubah sikap atau kebiasaan gw yang sering kesiangan dan males selalu melanda, semoga bisa terlaksana AMIN. bagaimana dengan kalian hei yang lg membaca posting ini?? pasti semua orang memepuyai tujuan dan harapan hidup bukan, dan bukan hanya itu saja kita sebagai Manusia yang mempunyai otak yang di beri oleh Allah SWT pasti mempunyai cara mewujudkan harapn tersebut.

btw, soal cara mewujudkan harapan, anda pasti ingin tau kan bagaimana cara gw mewujudkan harapan gw tapi bukan harapan gw tentang sola percintaan karena gw taluk lah kalau sama soal itu, nih caranya!!!!!

  1. yang paling utama berserah diri kepada Tuhan, dan jangan lupa kita mengucapkan doa dan menyebutkan harapan kita 3x
  2. bersabar menunggu harapan itu datang, karena pasti tidak langsung datang ke hadapan kita
  3. usaha dan kerja keras harus ditingkatkan
  4. mengawali sesuatu dengan ucapan “basmalah” dan diakhiri dengan “hamdalah”.

mungkin hanya itu saran dari gw ngga jelas, tapi mungkin ada manfaat sedikit. And then Happy New Year hopefully we can do anything much better than before. *gile jago inggris lo!!!* gw juga gx tau itu apa artinya, hehehehehe

Harapan yang tertunda

Posted: December 31, 2010 in Pengalaman
Tags:

selamat tahun baru nihh, semoga di taun 2011 semua cita-cita dan tujuan kita bisa tercapai AMIN. Dan selamat tinggal 2010, terimakasih atas waktunya…. Selamat Taun Baru lurr….

btw. Tentang harapan gw di taun 2010 itu belum tercapai, perlu di ceritain!!!!!. Ok karena lagi suasana meriah, gw akan ceritain (gw baik ea) hehehehehe. Gini nih!!!!!

kalau mau jelas baca aja postingan gw yang Cinta tak terbalas, ok.

harapan gw ini berawal dari mengenal lebih dekatnya dengan Ayu di bulan Maret, *bosen ah ente mah ayu lg ayu lh* bagaimana lgi ath bro gw sangat cinta dan semua yang ada di pikiran gw hanya dia. Maaf kepada pembaca yang baca blog gw, semoga tidak bosen membaca topik gw, karena gw tidak pernah bosan untuk mengingat dan menunggunya. (Lhoo??, jd curhat)

kembali lagi ke harapan, harapannya adalah bisa mendapatkan Bidadari Putri Permaisuri Ayu Wandila Widaningsih (Wanieunt kata temen-temennya), hehehehe. tetapi sampai saat ini detik ini gw belum bisa mendapatkannya. Huh sedih, tapi gw juga sadar akhir-akhir ini, kenapa gw engga langsung tembak aja (mati lah), karena gw mulai berpikir dan mulai merasa malu (kenapa malu boss?), gw malu karena gw ngga pantas sama dia, masa cewek cantik pacarnya kayak gw yang mukanya kayak kuli bangunan, ntar klau lg jalan bareng terus di tanya ma tukang ojeg.

Tukang Ojeg: “neng mau kmana?”

Ayu: “kemana aja boleh!!” (bahasa tren zaman sekarang)

Tukang Ojeg: “yehh, si eneng, neng ko pembantunya di bawa”

Gw: “HUAAAKKHHH” dengan gaya marah….

sedih kan law gto, bukan sedih ma gw aja, dianya juga pasti malu, oleh karena itu gw mulai dari detik ini mau jadi orang yang sukses (semua orang juga mau dodol), gw selalu belajar dan tak lupa membaca doa supaya kelak jadi sukses dan siap-siap melamar sang pujaan hati, kalau sudah sukses kan bisa menyenangkan hatinya dan dia tidak akan malu jalan ama gw, lah kalau misalnya sekarang pasti dia akan malu. hehehe

mungkin harapan itu akan terwujud atau malahan tidak karena kalau sesuatu yang di harapkan pasti akan suli di dapat tetapi jikalau kita sudah mendapatkannya kita pasti akan merawatnya dan menjaganya, itulah sebuah usaha kerja keras, dan coba bayangkan, dari pengalaman temen-temen gw, yang mwndapatkan cewe kayak mancing di kolam ikan, yang sekali lirik dapat, hanya yang di sayangkan cuma sebentar hubungannya.

maka dapat disimpulkan bahwa, apabila kita berusaha dan sabar dalam melakukan sebuah harapan atau tujuan kita kalau sudah tercapai pasti akan menjaganya karena usaha yang dilakukan untuk mendapatkannya itu tidak mudah dan itulah yang namanya CINTA SEJATI.

kembali lagi ke harapan gw, gw ingin selama gw sedang melaksanakan proses untuk menjadi sukses, semoga dia bisa senang dan gw nitip pesan ke kang Akbar (gw baru tau barusan) pacarnya yang sekarang, “Jagalah Ayu seperti menjaga dirimu sendiri”, OK.

Selamat Tahun Baruuu, I Miss You Ayu……..

PS : niih foto gw + Foto ayu = jadi apa ea????

Gw Yang Jelek

+

Ayu yang Cantik
=
wahhh kata Ki Joko Bodo ini cocok (maunya) AMINNN